Tentang Suwirta

Profil Singkat I Nyoman Suwirta

Kesederhanaan Berbuah Keberhasilan

I Nyoman Suwirta, Spd, MM adalah sosok anak bangsa yang mumpuni dan tangguh untuk diajak membangun negeri tercinta Indonesia ini. Terlahir, dari rahim Ni Wayan Bari dan I Made Baom sebagai putra Ceningan di Pulau terpencil Nusa Ceningan, Desa Lembongan, Kecamatan Nusa Penida, Pada (Sukra Paing Wuku Pahang), Jumat, 1 Desember 1967. Suwirta adalah putra ke tujuh dari delapan bersaudara.

 

Sejak awal, bapak tiga anak ini, tidak pernah bercita-cita untk terjun di dunia politik. Sosok pria berkulit putih ini sebenarnya ingin menjadi seorang pengajar dan berguna bagi bangsa sebagai seorang guru. Hal ini diakibatkan sosok orang tua, kerabat dekatnyapun banyak yang tak mampu mengenyam pendidikan walaupun hanya sebatas tamat sekolah dasar (SD). Untuk itulah walaupun dari Pulau terpencil dia ingin mencerdaskan generasinya.

Suwirta lahir dari keluarga sederhana dan bersahaja. Dalam perjalanan keluarganya, hanya Suwirta yang bisa melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Upaya mendapatkan pendidikan seperti anak-anak kebanyakan saat itu, ia lakukan tidak mudah. Banyak tantangan dan rintangan yang dihadapi.

 

Dari segi ekonomi dan gaya hidup, Suwirta memang dididik untuk hidup sederhana dan apa adanya seperti didikan masa kecilnya oleh Sang ayah.

 

Setelah lulus SD di kampung halamannya, pulau Ceningan, Suwitra nekat merantau sendirian ke pulau Nusa Penida. Di sana, Suwitra kecil bertemu dengan seseorang lalu diajak tinggal di rumahnya. Kebutuhan hidup sehari-hari dipenuhi dan dia diberi kesempatan untuk melanjutkan pendidikan di sekolah menengah pertama (SMP) Nusa Penida. Namun, setiap harinya Suwitra ikut membantu pekerjaan tuan rumah yang mengajaknya tinggal merawat ayam-ayam sang penolong tersebut. Keseharian, ia selalu melihat bisnis ayam petelur itu. Dari sanalah tumbuh jiwa semangat Suwitra untuk berbisnis. Sebenarnya jiwa kerja keras sudah ditanam sejak masih belum lulus SD. Setiap hari setelah pulang sekolah, dia mencari rumput untuk sapi dan pekerjaan apa saja untuk membantu orang tuanya.

 

Lanjut kisah, setelah lulus dari SMP Nusa Penida, Suwitra pindah ke Kota Semparapura, atau ibu kota Kabupaten Klungkung. Di kota ini, Suwirta remaja kemudian menjadi abdi di Puri Smaranegara, sambil melanjutkan pendidikan di SMA 1 Klungkung. Jadi, semua biaya hidup dan pendidikanya, dia perolah dari keringatnya sendiri.

 

Walau dengan biaya yang terbatas, beliau selalu berusaha mencukupi kebutuhan dengan mengirit dan tidak jarang berpuasa. Walaupun begitu Beliau tidak pernah menyesali orang tua, karena beliau yakin semua orang tua tidak ingin melihat anaknya melarat. Cuma karena keadaan semua itu harus dilalui dengan sabar.

 

Termasuk Beliau tidak pernah melupakan jasa-jasa dimana Beliau menjadi Abdi (parekan), ini ditunjukkan dengan selalu melakukan komunikasi, kerja sama maupun kunjungan (silaturahmi) dengan Tuan rumahnya. Karena Beliau yakin, tanpa Beliau (tuan rumah) Beliau tidak mempunyai jiwa yang tegar dalam menjalankan hidup ini. 

Saat tamat sekolah, oleh Tjokorda Bagus Putra (alm) memberi beliau dua pilihan, mengabdi di  Pemda Klungkung atau bekerja di Koppas Srinadi yang saat itu masih kecil. Dengan beberapa pertimbangan Pak Nyoman memilih bekerja di Koppas Srinadi, meniti karir sebagai kolektor, turun ke pasar bersama teman-teman dari jam tujuh pagi, mendekati pedagang, merayu nenek-nenek agar bersedia menjadi anggota Koppas Srinadi.

 

Tamat dari SMA, pada tahun 1987 Suwitra tak kenal diam, mulai bekerja  di koperasi Pasar Srinadi Klungkung. Berawal dari kolektor (tukang pungut tabungan) selama tujuh tahun, kemudian dia duduk menjadi salah satu pengurus di Koperasi yang kini menyandang predikat koperasi besar yang memiliki beragam prestasi local dan nasional.

 

Dengan pekerjaan yang telah di tekuni, Suwitra tidak lantas lupa dengan cita-cita awalnya menjadi seorang guru, kemudian dia melanjutkan pendidika di IKIP PGRI Bali menempuh jurusan biologi.

 

Namun garis tangan Suwitra bukan menjadi seorang pengajar, pada tahun 1993, dia dipercaya menjadi Sekretaris di Koppas Srinadi Klungkung. Dan itupun disandang selama satu tahun saja, karena tahun 1994 dia harus memimpin koperasi tersebut dan mebesarkannya dengan menjadi menejer.

 

Dari koperasi itu, dia menyadari bahwa kebersamaan, gotong royong dan bantu membantu sesama sangat terasa mewarnai hidupnya. Kemudian dia mulai fokus menekuni pekerjaanya sebagai manager koperasi. Pada tahun 2008, dia melanjutkan pendidikan strata dua (S2) jurusan ilmu manajemen di salah satu sekolah tinggi bidang ekonomi di Denpasar.

 

Giat didunia ekonomi dengan menggerakkan koperasi, menjadikan Koppas Srinadi Klungkung sebagai koperasi besar dan Berjaya. Penghargaan demi penghargaan mulai dari tingkat Kabupaten, Propinsi hingga nasional disandangnya. Bahkan berkali-kali menjadi koperasi berprestasi tingkat nasional. Hingga akhirnya menjadi salah satu koperasi sehat yang mendapat kunjungan dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk Bali, sebagai media pembelajaran.

 

Selama memimpin koperasi kurang lebih 27 tahun lamanya, I Nyoman Suwirta juga sempat menjadi Ketua Dekopinda tahun 2011, kemudian menjadi pengurus KONI Klungkung tahun 2011-2013.

 

Torehan keberhasilan inipun kemudian menjadi perhatian masyarakat Klungkung untuk mendukungnya maju menjadi sosok Bupati. Awalnya sempat tidak memiliki niat, mulai dari alasan keluarga, kemudian pendanaan, hingga berbagai factor lainnya. Namun dia memiliki tekad untuk menjadikan Klungkung maju, unggul dan sejahtera. Dan terpenting adalah dukungan sang istri Ni Nengah Rayu Astini, serta ketiga anaknya, dan keluarga besarnya Suwirta di usia ke 46nya mantap untuk maju Klungkung satu.  

 

Hingga akhirnya dia diaget oleh Partai Gerindra dan koalisi untuk diangkat menjadi calon Bupati disandingkan dengan wakilnya I Made Kasta yang merupakan putra Desa Akah.  Arah politik Nusa Penida-Klungkung ini pun membuahkan hasil maksimal dan Suwasta akhirnya menduduki kursi Bupati dan wakil Bupati 2013-2018.

 

Dan selama kepemimpinannya ini, I Nyoman Suwirta tetap bersahaja dengan ide-ide kreatif yang selalu muncul dan langsung dilaksanakan. Hingga akhirnya Klungkung kini bisa dibilang jaya. Pembangunan dilakukan disegala lini, akses jalan Nusa Penida, daratan terus diperbaiki, pariwisata dibenahi, ide kreatif digerakkan, dan di tiga tahun kepemimpinannya Pendapatan Asli daerah yang dijanjikan naik 100 persen dalam kurun lima tahun kepemimpinannya, malah sudah naik 120 persen lebih di masa tahun ketiga.